Selasa, 06 Oktober 2009

Melihat Taman Laut Bunaken yang Nyaris Jadi Legenda

0 komentar
Manado - Keindahan terumbu karang di Taman Laut Bunaken sudah jauh berkurang dibanding dulu. Banyak koral yang rusak dan mati. Berharap kegiatan seperti World Ocean Conference (WOC) dan Coral Initiative Triangle (CTI) bisa menghasilkan sesuatu yang nyata, tak hanya seremoni.

Detikcom melihat sendiri saat berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Laut Bunaken, Sulawesi Utara, Kamis (7/5/2009) lalu.

Berangkat dari salah satu dermaga di Boulevard, Manado, detikcom dan rombongan menyewa perahu bermotor satu. Perahu yang di tengahnya ada 2 kaca yang bisa diturunkan untuk melihat keindahan taman laut ini memuat sekitar 20 orang.

Tarifnya, sebenarnya antara Rp 850 ribu hingga Rp 1 juta. Namun, rombongan kami yang berjumlah sekitar 6 orang itu bisa mendapatkan harga Rp 750 ribu. Itu untuk pulang-pergi Bunaken-Manado dengan waktu yang bebas tak terbatas.

Alternatif lain, bisa saja menumpang perahu serupa yang tidak di-charter, alias untuk umum. Bayarnya jauh lebih murah, Rp 10 ribu. Tapi harus ekstra sabar karena ngetemnya lama.

Kamis itu, kami berangkat pukul 10.00 WITA. Cuaca yang cukup cerah membuat kami menikmati perjalanan sekitar 45 menit ke lokasi taman laut. Di kejauhan terlihat Gunung Manado Tua dan Pulau Bunaken di sebelahnya.

Sampai di spot taman laut yang kesohor itu, kaca pun diturunkan. Menurut operator perahu motor kami, Ridwan Maila, spot yang kami lihat ini adalah spot Likuan 2.

"Spotnya banyak sih. Ada Pangalisan yang bagus, tapi dari sini kita harus muter lagi," ujar Ridwan.

Saat melihat bawah laut, terbersit rasa prihatin. Tampak tak sedikit terumbu karang yang rusak atau mati. Penampakannya seperti gunung kapur yang gersang.

Detikcom bisa membandingkan, karena 15 tahun lalu, saat mengunjungi tempat ini taman lautnya sangat indah tak terkata. Belum tampak terumbu yang mati, semua koralnya berwarna-warni.

"Terumbu karang itu bisa rusak karena dibom. Kadang-kadang penduduk setempat bisa menginjak karang saat air surut. Saat air surut karang sampai terlihat dan menjadi pemecah ombak," jelas Ridwan, yang sudah 7 tahun menjadi operator perahu motor ini, menjelaskan kenapa terumbu karang itu bisa rusak.

Tapi untunglah masih ada terumbu yang hidup, tempat bersembunyi dan bermain ikan-ikan dan biota laut lainnya. Ridwan menambahkan, setelah Bunaken menjadi tempat wisata, hal-hal yang menghancurkan terumbu karang itu sudah dilarang.

Saat sampai di Pulau Bunaken dan menikmati air kelapa muda sejenak, tawaran rekan untuk ber-snorkelling sangat menggoda sehingga tak bisa dilewatkan. Tak usah risau jika tak membawa baju renang.

Di Pulau Bunaken tersedia persewaan snorkelling dan diving. Untuk fin (kaki katak) plus masker bisa
disewa dengan harga Rp 60 ribu, wetsuit alias pakaian selam Rp 50 ribu, live jacket atau pelampung dikenai tarif Rp 10 ribu, dan underwater atau perlengkapan menyelam (diving) disewakan dengan harga Rp 250 ribu.

Kami pun berangkat ke spot tempat snorkelling. Begitu nyemplung, mata saya pun tak bisa berpaling memandang taman laut yang terkenal itu.

Dari koral-koral yang hidup, banyak sekali ikan-ikan hias yang berlalu lalang. Seperti ikan badut (clown fish) ala 'Nemo', dan ikan-ikan hias lainnya beraneka warna.

Jika berharap ikan-ikan itu mau mendekat, pegang saja biskuit, mereka bakal menyambar satu persatu.

Roi, nahkoda perahu motor kami yang ikut bersnorkeling menunjukkan ikan napoleon yang berenang di palung laut. Lantas, dia menggamit tangan saya dan mengajak menyusuri spot yang terumbu karangnya masih bagus.

Koral berwarna hijau, kuning, ungu, merah seperti pelangi di dalam laut. Selain melihat ikan hias, saya juga melihat teripang dan bintang laut beraneka warna. Aduhai indahnya!

Roi, yang sudah sejak 20 tahun lalu menjadi guide tamu di Bunaken, mengambilkan bintang laut berwarna biru keunguan yang menempel di koral. Dia pun memberikan bintang laut itu pada saya.

Sebagai manusia urban, saya tentu takjub bisa memegang bintang laut yang bagus sekali warnanya, sebelum saya lepaskan lagi ke laut. Pun dia mengambilkan saya kerang, yang menjadi bahan kerajinan penduduk setempat.

Terik matahari yang bisa membuat kulit gosong pun tak terhiraukan, padahal saat itu pukul 13.00-15.00 WITA. Tak cukup 2 jam memang menikmati pemandangan bawah laut itu.

Kalau mau memperpanjang menginap di Pulau Bunaken, penduduk setempat menyediakan resor. Satu kamar berisi satu tempat tidur double dan kamar mandi dalam. Harganya cukup terjangkau, Rp 175 ribu per malam.

"Itu sudah mendapat makan pagi, siang dan malam. Tiga kali," ujar Viki salah satu penjaga resor.

Oh ya, menjelang event WOC yang berlangsung 11-15 Mei nanti, penduduk setempat pun tampak antusias menyambut. Tak hanya resor tempat penginapan yang diperbaiki, kamar bilas dan WC pun dicat ulang. Terbukti dengan warna yang masih mengilap dan bau cat yang menyengat.

Rencananya, sekitar seribu penyelam akan menyelam massal di Bunaken ini, masih berkaitan dengan even WOC.

Melihat keindahan dan potensi TNL Bunaken itu, siapa pun tak akan rela jika tempat itu rusak dan harus menjadi legenda suatu saat nanti. Berharap WOC dan CTI yang akan berlangsung 11-15 Mei bisa menghasilkan suatu yang nyata untuk menyelamatkan terumbu karang dan semua biota laut. Tak hanya di Bunaken, tapi juga di seluruh dunia. Sumber utama: Detik

Tag Search: Bunaken,Taman laut Bunaken,Taman Nasional Bunaken,Bunaken Indonesia,Wisata Bunaken,Menado-Bunaken,penginapan-Bunaken,perusakan taman laut Bunaken.

0 komentar:

Poskan Komentar


Add to Google Reader or Homepage Subscribe in NewsGator Online Subscribe in Rojo Add to Plusmo Add Aldo Acerto- Meggy Artikel: Bunaken,Manado,Sulut,Indonesia to ODEO Add to Webwag Add to Pageflakes Subscribe in podnova Subscribe in Bloglines